Pilih Bahasa
UNISA_Logo-02-removebg-preview
DAFTAR PMB
Unisa Bandung Terlibat Aktif Dalam Pembangunan Desa Melalui Program MBKM PTMGRMD

(BANDUNG, UNISA-BANDUNG.AC.ID) - Mahasiswa Unisa Bandung berperan aktif dalam membangun desa melalui Program MBKM PTMGRMD (Perguruan Tinggi Mandiri Gotong Royong Membangun Desa).

Program ini merupakan bagian dari Skema KKN-Tematis yang diselenggarakan oleh LLDIkti Wilayah IV berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah Sumedang, dan masyarakat setempat, berlangsung pada tanggal 17 Februari - 17 Juni 2024.

Koordinator PT MBKM PTMGRMD Tahun 2024 dari Unisa Bandung, Perla Yualita, M.Pd mengatakan bahwa ada 17 mahasiswa Unisa Bandung yang terlibat dalam kegiatan ini.

"Adapun mahasiswa tersebut terdiri dari berbagai program studi, antara lain Sarjana Keperawatan, Kebidanan, Desain Komunikasi Visual (DKV), Pariwisata, dan Perdagangan, ditempatkan di Kecamatan Conggeang, Sumedang. Mereka akan bergabung dengan total 1200 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi yang tersebar di 26 kecamatan dan 251 desa di Sumedang" Ungkap Perla, Selasa (20/02/2024)

Perla mengatakan bahwa proram PTMGRMD ini bertujuan untuk mengasah soft skills, memperkuat kerjasama tim lintas disiplin, dan membangun kepemimpinan mahasiswa dalam mengelola program pembangunan di wilayah pedesaan.

Selain itu, para mahasiswa juga difasilitasi untuk menerapkan ilmu pengetahuan mereka dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat desa.

"Tujuan utama dari MBKM PTMGRMD ini adalah untuk meningkatkan kualitas masyarakat Jawa Barat dan Banten sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia yang mendukung program Jawa Barat juara lahir batin. Salah satu target output yang ingin dicapai adalah sinergitas antara perguruan tinggi dalam membangun desa guna mewujudkan Jabar Juara dan Banten mandiri, maju, serta sejahtera". Lanjutnya.

Diakhir Perla juga mengatakan bahwa program ini mencerminkan komitmen para mahasiswa Unisa Bandung dalam berkontribusi positif bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, serta menjadi contoh nyata dari kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup di wilayah pedesaan. (*)