Pilih Bahasa
UNISA_Logo-02-removebg-preview
DAFTAR PMB
Dari Bambu Runcing ke Pena Ilmu: Meneruskan Semangat Pahlawan di Perguruan Tinggi

ditulis oleh:
Dr. Angga Wilandika, S.Kep., Ners., M.Kep.

(Dosen Prodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners - Fakultas Ilmu Kesehatan)

Saya berdiri di halaman Rektorat saat pagi yang telah terik dengan sinar sang surya, di bawah bayangan gedung yang meneduhkan, dan dari kejauhan, deru kendaraan yang melintas di Jalan Lodaya. Bandung, kota yang diapit oleh pegunungan dan dikelilingi oleh udara sejuk, pagi ini seolah mengajak saya merenung tentang makna kepahlawanan, bukan di medan perang, melainkan di ruang-ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, dan ruang-ruang kampus.

Hari Pahlawan selalu mengembalikan ingatan kita pada Surabaya, pada nyala api 10 November 1945 yang berkobar di antara reruntuhan gedung dan keberanian anak muda. Namun di Bandung, semangat itu menjelma dengan cara lain: bukan dengan bedil dan granat, tapi dengan pena, papan tulis, dan niat untuk menyalakan kembali api kemerdekaan melalui ilmu pengetahuan.

“Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang berjuang agar generasi tidak kembali dijajah oleh kebodohan dan ketidakpedulian.”


Bandung, dengan sejarah dan lanskap budayanya yang khas, adalah ruang refleksi yang sempurna untuk memahami esensi pahlawan pendidikan. Di kota ini, semangat pergerakan intelektual pernah lahir dari kampus-kampus, asrama mahasiswa, dan warung kopi sederhana di sekitar Dago atau Dipatiukur. Semangat yang melahirkan ide-ide kemerdekaan, inovasi, dan keberanian untuk berpikir berbeda.

Dari Gunung Tangkuban Parahu ke Gedung Rektorat

Gunung Tangkuban Parahu, dengan siluetnya yang seperti perahu terbalik, adalah simbol tentang curiosity dan rebellion yang positif. Legenda Sangkuriang mengajarkan bahwa kekeliruan bisa menjadi guru, dan upaya untuk memperbaiki kesalahan adalah bagian dari perjuangan manusia.

Dalam konteks pendidikan, pahlawan adalah mereka yang berani menolak stagnasi intelektual dan mencari bentuk baru dalam proses belajar.

Di perguruan tinggi, kita tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme bersenjata, tetapi dengan penjajahan bentuk baru: kemalasan berpikir, komersialisasi ilmu, dan kehilangan arah moral dalam mengejar gelar. Di sinilah pahlawan pendidikan tampil bukan dengan bendera dan bambu runcing, tetapi dengan integritas dan komitmen pada kebenaran akademik.

Mereka adalah dosen yang menolak plagiarisme, peneliti yang tetap jujur pada data, mahasiswa yang menolak jalan pintas demi kelulusan cepat, serta pimpinan kampus yang menjadikan nilai dan nurani sebagai dasar kebijakan. Mereka berperang di ruang sunyi, ruang skripsi, ruang penelitian, dan ruang diskusi untuk melawan budaya serba instan.  

Dari Situ Patenggang ke Taman Sari

Ada satu legenda di Situ Patenggang, tentang Kian Santang dan Dewi Rengganis yang dipertemukan kembali setelah lama berpisah. Di tengah situ itu ada Pulau Asmara, simbol pertemuan dua insan yang saling mencari. Dalam dunia pendidikan, pahlawan adalah mereka yang terus berupaya mempertemukan dua hal: ilmu dan kemanusiaan. Karena tanpa kemanusiaan, ilmu hanyalah rumus dingin. Dan tanpa ilmu, kemanusiaan kehilangan arah.

Seperti Kian Santang yang mencari Rengganis, pahlawan pendidikan adalah mereka yang mencari makna, menyeimbangkan nalar dan nurani, logika dan etika.  “Tugas pendidik bukan hanya mencetak sarjana, tapi memanusiakan manusia.”  

Pahlawan pendidikan tahu bahwa kemerdekaan sejati lahir dari kesadaran, bukan sekadar pengetahuan. Mereka menyalakan cahaya di ruang-ruang kecil, meyakini bahwa satu mahasiswa yang tercerahkan jauh lebih berarti daripada seribu yang sekadar lulus.  

Dari Alun-alun Bandung ke Gunung Papandayan

Di Alun-alun Bandung, kita melihat wajah masyarakat yang beragam: anak-anak berlari, mahasiswa duduk dengan laptop, dan pedagang kecil menanti pembeli. Di sanalah nilai kesetaraan dan kebersamaan terwujud nyata. Kepahlawanan, dalam kacamata antropologis, selalu berakar dari kebersamaan. Dalam konteks perguruan tinggi, semangat ini muncul ketika dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan masyarakat berjalan dalam satu visi: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Gunung Papandayan di Garut, yang pernah meletus dan kini menjadi taman wisata alam yang subur, memberi kita pelajaran tentang resilience. Seperti gunung itu, pendidikan sering kali harus melewati letupan dan luka. Tapi dari abu itulah tumbuh kehidupan baru. Pahlawan pendidikan adalah mereka yang tahan terhadap tekanan birokrasi, kebijakan yang berubah-ubah, dan keterbatasan sumber daya, namun tetap menumbuhkan kehidupan akademik yang sehat.  

Dari Kearifan Lokal ke Kepahlawanan Global

Orang Sunda mengenal istilah “silih asah, silih asih, silih asuh” yang artinya saling mengasah, saling mengasihi, dan saling membimbing. Inilah fondasi etika kepahlawanan dalam pendidikan. Pahlawan sejati tidak bekerja untuk dikenang, tetapi untuk menyalakan terang bagi yang datang setelahnya.

Di era digital, pahlawan pendidikan mungkin tidak mengenakan seragam perang, tapi mereka tetap berperang: melawan disinformasi, melawan dangkalnya berpikir kritis, melawan hilangnya empati di tengah derasnya arus teknologi. Mereka menanamkan nilai integritas di tengah algoritma, dan menumbuhkan kebijaksanaan di antara data.  

Dalam bahasa Ki Sunda, kepahlawanan bukan tentang naék pangkat, tapi naék harkat yakni menaikkan derajat kemanusiaan melalui ilmu dan laku. Di kampus-kampus Jawa Barat, setiap pengajar, peneliti, dan mahasiswa sejatinya sedang berada di barisan depan perjuangan itu. Kita semua adalah bagian dari pasukan kecil yang berjuang agar bangsa ini tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus modernitas.  

Penutup: Menjadi Pahlawan di Zaman yang Sunyi

Kini, di selasar kampus yang perlahan diterpa cahaya matahari, saya melihat sekelompok mahasiswa masih bertahan, berdiskusi tentang tugas riset dan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi perawat yang berintegritas, ada yang ingin menjadi bidan di pelosok, ada yang ingin menjadi pebisnis maupun desainer grafis, ada pula yang ingin meneliti untuk solusi masyarakat desa. Mereka inilah wajah baru kepahlawanan.

Bandung pagi itu seperti mengamini… bahwa api perjuangan tak selalu berkobar di medan perang; kadang ia menyala tenang di dada mereka yang mengajar dengan tulus, belajar dengan jujur, dan meneliti dengan nurani. “Setiap kali seorang dosen menyalakan semangat berpikir kritis dalam diri mahasiswanya, di sanalah lahir satu pahlawan baru.”

Selamat Hari Pahlawan.
Mari terus menyalakan api perjuangan di ruang-ruang belajar, karena bangsa besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang berani mati untuk kemerdekaan, tetapi juga oleh mereka yang berani hidup untuk mencerdaskan kehidupan.