Pilih Bahasa
UNISA_Logo-02-removebg-preview
DAFTAR PMB
Langkah-Langkah Obor: Inspirasi dari Timur dan Barat  untuk Regenerasi Kepemimpinan Akademik yang Visioner di Era Transformasi Pendidikan Tinggi.

Langkah-Langkah Obor: Inspirasi dari Timur dan Barat untuk Regenerasi Kepemimpinan Akademik yang Visioner di Era Transformasi Pendidikan Tinggi.

Refleksi Pertemuan Konferensi Puncak Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025

ditulis oleh :
Prof. Dr. Sitti Syabariyah., S.Kp., MS. Biomed.
(Dosen Prodi S1 Keperawatan  - Fakultas Ilmu Kesehatan )

Transformasi pendidikan tinggi di Indonesia tak sekadar soal teknologi atau kurikulum. Ia adalah soal arah. Siapa yang menavigasi kapal besar bernama universitas, itulah yang akan menentukan apakah kita tenggelam dalam gelombang disrupsi atau justru melayari samudra inovasi. Unisa Bandung, sebagai perguruan tinggi yang sedang bertumbuh, menghadapi tantangan yang sama. Banyak dosen senior mendekati masa pensiun, sementara regenerasi pemimpin akademik belum sepenuhnya terstruktur.

Di sinilah pentingnya kita belajar dari praktik baik institusi lain. Konferensi Puncak Perguruan Tinggi Indonesia Tahun 2025, menyajikan praktik baik yang dipaparkan oleh Universitas Padjadjaran dan Universitas Mulawarman memberikan pencerahan yang menginspirasi. Kedua institusi tersebut tidak hanya membagikan pengalaman, tetapi juga menunjukkan bahwa transformasi kepemimpinan akademik dapat diwujudkan dengan keberanian merancang strategi, membangun sistem, dan menumbuhkan budaya akademik yang sehat.

Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Universitas Mulawarman (UNMUL) memberikan pelajaran penting. Keduanya menerapkan strategi regenerasi kepemimpinan akademik yang berbeda, namun saling melengkapi. Dari mereka, kita menyerap hikmah: tidak ada regenerasi yang berhasil tanpa visi, sistem, dan integritas. UNPAD menempuh jalan pembinaan sistemik. Melalui Academic Leadership Grant, High Quality Talent Recruitment, Program internasionalisasi, Postdoctoral Program, Percepatan Lektor Kepala, Rekognisi nasional dan global, para dosen muda dibina secara berkelanjutan untuk menjadi pemimpin akademik—didampingi mentor, dilatih menulis, riset, dan menumbuhkan karakter kepemimpinan.

Bukan hanya akademik yang tumbuh, namun juga budaya organisasi yang sehat. Hasilnya tidak main-main. Dalam satu dekade, persentase dosen aktif dalam publikasi ilmiah melonjak dari 47% menjadi hampir 90%, dan lulusan UNPAD lebih mudah terserap di dunia kerja (Employability dari 35% meningkat sampai 97%). Di balik data itu, ada jejak kepemimpinan yang ditumbuhkan sejak dini.

Sementara itu, UNMUL memotret kondisi yang lebih menantang. Terletak di Kalimantan Timur, UNMUL berdiri di persimpangan strategis dekat dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), namun dengan tantangan partisipasi pendidikan tinggi yang masih rendah. Di tengah fenomena “tsunami pensiun”, UNMUL menekankan peran rektor sebagai pemimpin transformasional.

Bukan sekadar administrator, tapi Chief Innovation Officer—pemikir strategis yang berani menutup program usang dan membuka jalan bagi studi masa depan. Budaya birokrasi dan politisasi jabatan menjadi hambatan yang mereka hadapi. Namun, UNMUL membalasnya dengan strategi kolaboratif: menggandeng industri, pemerintah, dan mitra internasional dalam semangat triple helix. Fokus mereka bukan sekadar bertahan, tapi menjadi unik secara akademik.

Kajian tentang hutan hujan tropis, inovasi di bidang pengobatan tropis, serta integrasi nilai lokal menjadi ciri akademik UNMUL yang membedakannya dari universitas lain. Di sinilah pentingnya regenerasi yang berbasis karakter dan konteks. Kedua universitas ini mengajarkan kita bahwa regenerasi tidak bisa dibiarkan berjalan alamiah. Ia harus dirancang. Dirancang sebagai kebijakan institusional yang berkelanjutan, yang menjadikan kepemimpinan sebagai bagian dari proses akademik, bukan sekadar jabatan administratif.

Unisa Bandung perlu menciptakan talent pipeline jalur pembibitan pemimpin akademik sejak awal karier dosen. Program mentoring, pelatihan kepemimpinan, hingga penguatan budaya akademik yang etis dan kolaboratif bisa menjadi langkah awal. Selain itu, regenerasi juga berarti memberi ruang bagi keberanian: keberanian untuk mengubah, menyesuaikan diri dengan teknologi, dan membuka diri terhadap jejaring global.

Ke depan, pemimpin akademik selain mereka yang mumpuni secara keilmuan, namun mereka juga harus mampu menjadi penggerak, inspirator, dan penghubung antara pengetahuan dan masyarakat. Pemimpin yang melayani, bukan dilayani. Untuk itu, integritas harus menjadi fondasi. Karena dalam kepemimpinan akademik, legitimasi bukan berasal dari jabatan, tapi dari keteladanan dan kontribusi nyata.

Dalam ekosistem baru pendidikan tinggi, universitas bukan lagi menara gading. Ia adalah ekosistem hidup yang dinamis. Maka, pemimpin di dalamnya harus mampu membaca masa depan dan menanamkan benih perubahan sejak hari ini. Regenerasi bukan sekadar mengganti orang tua dengan yang muda. Tapi menciptakan keberlanjutan nilai, semangat, dan inovasi. Seperti relay, tongkat estafet itu harus diberikan dengan penuh kesadaran, bukan sekadar karena usia.

Penutup

Regenerasi kepemimpinan akademik bukan sekadar agenda struktural, melainkan gerakan budaya yang membutuhkan keteladanan, komitmen bersama, dan keberanian untuk berubah. Unisa Bandung, dengan semangat kolaboratif dan visi transformatif, memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif perubahan di kawasan ini. Kuncinya adalah kesediaan untuk belajar, membina, dan menciptakan ruang eksperimentasi yang sehat.

Momentum dari Konferensi Puncak ini harus kita bawa pulang sebagai energi baru untuk membangun generasi pemimpin akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana, inspiratif, dan tangguh menghadapi masa depan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang diam. Ia ditulis oleh mereka yang berani melangkah lebih dahulu. Mari kita mulai dari Unisa Bandung.