“Islam, Kesadaran Ekologi, dan Masa Depan Green Campus”: Sebuah Refleksi I’tikaf Ramadhan 1447 H
ditulis Oleh :
Dr. Angga Wilandika, S.Kep., Ners., M.Kep.
(Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya)
I’tikaf Ramadhan tahun ini yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah pada 7-8 Maret 2026 di Ciamis, Jawa Barat, menghadirkan ruang sunyi untuk merenung. Di sela-sela ibadah yang menenangkan, sering kali muncul pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana iman diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Dalam I’tikaf Ramadhan tahun ini, tema “Islam dan Kesadaran Ekologi dalam Perspektif Muhammadiyah” membuka satu perenungan penting: bahwa keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan kesalehan personal, tetapi juga dengan tanggung jawab terhadap kehidupan dan lingkungan.
Selama ini, nilai kepedulian dalam Muhammadiyah sering dirujuk melalui spirit Al-Ma’un, yaitu sebuah ajaran yang menegaskan pentingnya keberpihakan kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Tafsir sosial terhadap Al-Ma’un telah lama menjadi fondasi bagi berbagai gerakan pelayanan Muhammadiyah, mulai dari pendidikan hingga kesehatan. Namun dalam konteks zaman sekarang, ketika krisis ekologis semakin nyata, spirit tersebut terasa perlu diperluas.
Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas ekosistem tidak lagi sekadar persoalan alam, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Mereka yang paling merasakan dampaknya justru sering kali adalah kelompok yang paling rentan. Di titik inilah gagasan Green Al-Ma’un menemukan relevansinya. Jika Al-Ma’un mengajarkan kepedulian terhadap manusia, maka kepedulian itu secara logis juga mencakup lingkungan yang menopang kehidupan manusia. Merawat bumi pada akhirnya merupakan bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri.
Refleksi ini juga membawa pikiran pada peran penting perguruan tinggi. Kampus bukan hanya tempat memproduksi pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial dan moral. Dalam konteks keberlanjutan, konsep Green Campus seharusnya tidak berhenti pada simbol atau proyek penghijauan semata. Green campus perlu dipahami sebagai paradigma yang menyatu dalam seluruh ekosistem akademik: cara kampus mengelola energi dan sumber daya, bagaimana limbah ditangani, bagaimana ruang terbuka hijau dipelihara, hingga bagaimana nilai keberlanjutan diintegrasikan dalam kurikulum, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Bagi perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, langkah ini memiliki landasan nilai yang kuat. Kesadaran ekologis bukan sekadar mengikuti tren global, tetapi berakar pada etika keislaman yang memandang manusia sebagai khalifah fil ardh, yaitu penjaga keseimbangan kehidupan di bumi.
Dalam bidang kesehatan, hubungan antara manusia dan lingkungan menjadi semakin jelas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara, air, dan lingkungan hidup berpengaruh langsung terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Polusi, degradasi ekosistem, dan perubahan iklim meningkatkan berbagai risiko penyakit, mulai dari gangguan pernapasan hingga tekanan psikologis. Karena itu, pendekatan kesehatan di masa depan tidak bisa lagi hanya bersifat kuratif. Perspektif kesehatan yang lebih ekologis dan holistik perlu dikembangkan, melihat kesehatan manusia sebagai bagian dari sistem kehidupan yang lebih luas.
Bagi kampus-kampus yang memiliki fakultas kesehatan, hal ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab.
Pendidikan kesehatan tidak hanya membentuk tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran ekologis dalam praktik kesehatan masyarakat.
Dari sinilah refleksi I’tikaf ini terasa menemukan arahnya. Spirit Ramadhan tidak berhenti pada peningkatan kualitas ibadah personal, tetapi juga dapat menjadi sumber energi moral untuk membangun kesadaran yang lebih luas, kesadaran untuk merawat kehidupan. Gagasan Green Al-Ma’un dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam, gerakan sosial Muhammadiyah, dan agenda keberlanjutan global. Nilai tersebut dapat menginspirasi transformasi.
kampus menjadi ruang yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap masa depan bumi.
Sudah saatnya perguruan tinggi mengambil langkah yang lebih berani menuju Green Campus berbasis Al-Ma’un. Kampus yang menumbuhkan kesadaran ekologis, mengembangkan ilmu untuk keberlanjutan, dan mempraktikkan nilai kepedulian terhadap kehidupan dalam kebijakan dan budaya institusinya. Jika dahulu spirit Al-Ma’un menggerakkan pelayanan sosial bagi mereka yang membutuhkan, maka hari ini spirit yang sama dapat diperluas menjadi gerakan merawat bumi dan kehidupan.
“Dari kampus, kesadaran itu dapat tumbuh.”
“Dan dari kesadaran itu, masa depan yang lebih berkelanjutan dapat mulai dibangun.”
