Pilih Bahasa
UNISA_Logo-02-removebg-preview
DAFTAR PMB
Hari Ibu 2025: Dari Rahim Peradaban, Perempuan Berkemajuan Menyemai Masa Depan



ditulis oleh :
Prof. Dr. Sitti Syabariyah., S.Kp., MS. Biomed

(Dosen Prodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners)

Hari Ibu bukan sekadar penanda tanggal di kalender nasional. Ia adalah jeda sunyi yang mengajak kita menundukkan kepala—bukan karena lemah, tetapi karena sadar betapa agungnya peran seorang ibu dalam denyut kehidupan. Di tahun 2025 ini, Hari Ibu hadir sebagai ruang refleksi yang semakin relevan, terutama bagi sivitas akademika Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Bandung, kampus yang sejak awal meneguhkan diri sebagai rumah besar bagi perempuan berkemajuan. Di Unisa Bandung, makna Hari Ibu melampaui seremoni. Ia menjelma sebagai nilai hidup, sebagai napas yang mengalir di ruang-ruang kelas, laboratorium, dan diskusi ilmiah.

Ibu bukan hanya figur domestik; ia adalah pendidik pertama, peletak fondasi karakter, dan arsitek peradaban. Dari pangkuannya lahir generasi, dari doanya tumbuh keberanian, dan dari ketekunannya terbangun masa depan. Inilah pesan mendalam yang juga ditegaskan dalam naskah reflektif tentang IBU PENAKU Sejarah bangsa Indonesia mencatat bahwa Hari Ibu berakar dari kesadaran kolektif perempuan yang bangkit dan berjuang.

Ia bukan simbol kelembutan yang pasif, melainkan keteguhan yang aktif. Dalam konteks Unisa Bandung, semangat itu menemukan rumahnya. Kampus ini tidak hanya menghargai perempuan, tetapi mempercayai mereka sebagai subjek perubahan. Perempuan berkemajuan adalah mereka yang berilmu, beriman, dan berdaya—mampu merawat kehidupan sekaligus memimpin perubahan. Di balik capaian institusi, ada sosok-sosok ibu yang sering bekerja dalam senyap. Ibu-ibu dosen yang menakar ilmu dengan kesabaran, menulis dengan ketekunan, dan mengajar dengan cinta.

Dari ujung pena para dosen perempuan, lahir gagasan-gagasan yang membentuk watak akademik Unisa Bandung. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi penenun harapan—menyulam nilai, etika, dan visi ke dalam diri mahasiswa. Setiap modul yang disusun, setiap penelitian yang dituntaskan, adalah bentuk kasih sayang intelektual yang kelak berbuah pada kualitas lulusan.

Hari Ibu juga menjadi momentum untuk mengapresiasi para tenaga kependidikan—para ibu yang memastikan roda institusi berputar dengan rapi. Mereka hadir lebih awal, pulang lebih akhir, mengatur detail yang sering luput dari sorotan. Dalam kesunyian administrasi, mereka menjaga denyut pelayanan agar mahasiswa dapat belajar dengan tenang.

Mereka adalah penjaga irama kampus, memastikan harmoni antara visi dan praktik. Lebih jauh, Unisa Bandung menyadari bahwa mendidik perempuan hari ini berarti menyiapkan ibu-ibu masa depan yang cemerlang. Mahasiswi Unisa Bandung adalah calon ibu yang kelak akan memimpin keluarga, komunitas, bahkan bangsa.

Di ruang kuliah, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi membangun karakter: ketangguhan berpikir, kehalusan nurani, dan keberanian bertindak. Kampus ini menanamkan bahwa menjadi ibu tidak menghapus identitas intelektual; sebaliknya, ilmu justru memperkaya peran keibuan. Dalam perspektif nilai Islam yang menjadi napas Unisa Bandung, kedudukan ibu dimuliakan sepanjang hayat, bukan hanya satu hari dalam setahun. Ajaran tentang bakti kepada ibu adalah jalan menuju ridha Ilahi.

Namun, peringatan Hari Ibu tetap penting sebagai pengingat kolektif—agar kita tidak lupa bersyukur, agar kita kembali menata sikap, dan agar kita memperkuat komitmen untuk melindungi serta memberdayakan perempuan. Peringatan ini menjadi jembatan antara kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial. Bahasa ibu adalah bahasa cinta yang pertama kita kenal.

Dari sana, kita belajar makna sabar, ikhlas, dan berjuang tanpa pamrih. Di Unisa Bandung, bahasa itu diterjemahkan ke dalam kebijakan, kurikulum, dan budaya akademik yang inklusif. Kampus ini percaya bahwa kualitas lulusan tidak hanya diukur dari kecerdasan kognitif, tetapi dari keluhuran akhlak dan kepekaan sosial—nilai-nilai yang akarnya kuat dalam peran keibuan.

Hari Ibu 2025 juga mengajak kita menyalakan kembali api motivasi dan girah untuk terus berkembang. Bagi dosen, ini adalah panggilan untuk terus menajamkan ilmu dan memperluas dampak. Bagi mahasiswa, ini adalah undangan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, karena setiap langkah akademik adalah bentuk bakti kepada ibu—ibu kandung, ibu dosen, dan ibu peradaban. Bagi institusi, ini adalah komitmen untuk terus menciptakan ruang aman, adil, dan bermartabat bagi perempuan. Apresiasi tertinggi patut kita haturkan kepada ibu-ibu di Unisa Bandung yang telah berjuang melahirkan lulusan terbaik—lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi siap mengabdi.

Mereka adalah buah dari kesungguhan para pendidik yang menanamkan ilmu dengan hati. Setiap wisuda adalah perayaan kolektif atas kerja panjang para ibu yang percaya bahwa pendidikan adalah amal jariyah paling panjang umurnya. Akhirnya, Hari Ibu mengajarkan kita bahwa peradaban besar lahir dari rahim yang dimuliakan.

Unisa Bandung, dengan seluruh sivitasnya, berdiri di atas keyakinan itu. Mari kita rawat semangat perempuan berkemajuan, kita kuatkan ekosistem pendidikan yang berkeadilan, dan kita pastikan bahwa setiap langkah ke depan selalu berakar pada penghormatan kepada ibu. Karena dari sanalah masa depan disemai—dengan cinta, ilmu, dan keberanian.

Selamat Hari Ibu 2025. Untuk para ibu di Unisa Bandung: terima kasih telah menjadi cahaya yang tak pernah padam.