Ditulis oleh :
Dr. Angga Wilandika, S.Kep., Ners., M.Kep
(Dosen Program Studi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners - Fakultas Ilmu Kesehatan)
“Tidak semua perjalanan butuh suara keras.”
Begitu pesan dari seorang rekan doktor di grup WA: Smart Health Society , sosok yang kalau menulis selalu berhasil membuat sains terasa seperti percakapan hangat di pagi hari. Kalimatnya sederhana, tapi mengalir lembut, menembus sunyi, dan menyentuh ruang kesadaran yang sering kita abaikan di tengah riuh dunia kerja akademik.
Keheningan memang guru yang jarang kita dengar.
Ia mengajarkan cara bicara tanpa menyakiti, cara menegur tanpa meninggi, cara menuntun tanpa menekan. Tapi ironisnya, di ruang yang disebut kampus, dimana tempat nalar seharusnya menjadi panglima, sering kali justru tutur kehilangan arah.
Kita hidup di lingkungan yang seharusnya menumbuhkan pengetahuan, tapi kadang justru menumbuhkan ketakutan. Di antara deretan meja kerja dan ruang dosen, ada yang belajar menelan air mata karena “teguran keras”.
Ada pula mahasiswa yang diam bukan karena paham, tapi karena "takut salah bicara".
Verbal bullying di lingkungan akademik sering bersembunyi di balik dalih “pembelajaran disiplin” atau “candaan intelektual”. Tapi tubuh manusia tak pernah bisa dibohongi. Setiap kali kata-kata kasar meluncur, setiap kali nada tinggi menekan, sistem biologis kita langsung bereaksi: otak menyalakan alarm.
Di balik setiap kalimat yang menusuk, ada reaksi kimia yang nyata.
Hipotalamus sebagai pusat kendali emosi di otak, segera memicu pelepasan Corticotropin-Releasing Hormone (CRH). CRH kemudian mengirim pesan ke kelenjar pituitary untuk melepas Adrenocorticotropic Hormone (ACTH), yang lalu memerintahkan kelenjar adrenal melepaskan kortisol. Beginilah sumbu Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA) bekerja: sebuah rantai biologis yang memastikan kita siap menghadapi ancaman.
Masalahnya, tubuh tidak bisa membedakan antara ancaman fisik dan ancaman verbal. Nada tinggi dari atasan, sindiran dari rekan kerja, atau komentar merendahkan dari dosen bisa memicu respons yang sama seperti saat kita dikejar bahaya. Kortisol melonjak, tekanan darah meningkat, jantung berpacu. Tubuh bersiap bertahan, tapi jiwa justru perlahan terkikis.
Jika kondisi ini berulang, sistem HPA menjadi hipersensitif.
Produksi kortisol yang seharusnya mengikuti irama sirkadian, naik perlahan di pagi hari dan menurun lembut menjelang malam, menjadi kacau. Ritme biologis terganggu, tidur tidak nyenyak, daya ingat menurun, dan empati perlahan menipis. Dari sini, tubuh yang lelah bisa menular menjadi budaya yang letih: budaya kerja yang kehilangan keheningan batin.
Padahal, setiap sel dalam tubuh kita punya jamnya sendiri, jam sirkadian yang dikendalikan oleh nukleus suprakiasmatik (SCN) di otak depan. SCN menerima cahaya pagi sebagai isyarat waktu, menata ulang ritme biologis agar selaras dengan siang dan malam. Begitu pula seharusnya nalar dan tutur manusia: selaras dengan cahaya kebijaksanaan, tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam.
Kortisol yang melonjak lembut di pagi hari sejatinya membantu kita bangun dengan semangat dan fokus. Tapi jika sepanjang hari kita membiarkan tutur kasar dan nada tinggi berkuasa, maka gelombang kortisol itu tak pernah sempat surut.
Ia berubah dari ombak yang membangunkan menjadi badai yang menguras energi. Maka jangan heran bila kelelahan emosional dan burnout akademik kini begitu sering muncul: tubuh menjerit dalam diam, karena tutur tak lagi bersandar pada nalar.
Dunia akademik membutuhkan dua hal sekaligus: ketajaman berpikir dan kelembutan berbahasa. Tanpa nalar, tutur kehilangan arah. Tanpa tutur yang beradab, nalar kehilangan makna.
Nalar yang sejati tak pernah butuh suara keras untuk didengar.
Ia menyalakan logika sekaligus meneduhkan hati. Sementara tutur yang jernih adalah wujud kasih yang menyeimbangkan sistem biologis manusia, menurunkan kortisol, menenangkan sistem saraf parasimpatik, dan memulihkan ritme sirkadian yang terganggu oleh stres.
Dalam konteks kampus, tutur yang berakar pada nalar sejatinya adalah bagian dari etika akademik.
Bukan hanya bagaimana kita menulis referensi atau menilai tugas, tetapi juga bagaimana kita menyapa, menegur, dan berterima kasih. Kata-kata adalah biokimia sosial: mereka bisa menstabilkan, tapi juga bisa merusak.
Keheningan dini hari selalu menyimpan makna. Saat ritme kortisol perlahan menurun, SCN mengantar tubuh menuju istirahat, dan neuron-neuron berbisik lembut dalam delta gelombang, tubuh kita tengah belajar tentang keseimbangan. Tentang diam yang menumbuhkan. Tentang sunyi yang menyehatkan.
Barangkali di situ pula letak makna pesan bijak itu:
“Tidak semua perjalanan butuh suara keras.”
Kadang, yang paling berarti justru langkah kecil dalam diam, menuju kebaikan, menuju keadaban, menuju kampus yang menumbuhkan bukan hanya cendekia, tapi juga manusia. Di tengah segala hiruk-pikuk pekerjaan dan tuntutan akademik, kita hanya perlu kembali belajar pada keheningan.
Belajar untuk menurunkan nada suara, menata ulang nalar, dan menyampaikan tutur yang menenangkan, bukan menekan.
Saya pun masih belajar…
Belajar untuk menjaga nalar agar tak tergelincir menjadi pembenaran, dan tutur agar tak berubah menjadi senjata. Karena di dunia yang bising oleh suara, kebijaksanaan justru sering lahir dari diam yang sadar.
Wallahu a‘lam bishshawab
Hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.(*)
