Pilih Bahasa
UNISA_Logo-02-removebg-preview
DAFTAR PMB
Ruang Refleksi : Cepat atau Tepat? Isra Mi’raj dalam Lanskap Sosial dan Psikologis Masyarakat Digital

Ruang Refleksi : Cepat atau Tepat? Isra Mi’raj dalam Lanskap Sosial dan Psikologis Masyarakat Digital

ditulis Oleh :
Hayinah Rahayu, M.Ag

(Dosen Prodi Ilmu Sarjana Kebidanan - Fakultas Ilmu Kesehatan)

Dosen Prodi Sarjana Ilmu Kebidanan Kehidupan masyarakat dewasa ini berlangsung dalam ritme yang semakin padat dan cepat. Teknologi digital telah memperpendek jarak, mempercepat arus informasi, dan menuntut respons yang nyaris seketika. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi struktur sosial dan pola kerja, tetapi juga menyentuh wilayah psikologis manusia: cara berpikir, mengelola emosi, serta memberi makna pada pengalaman hidup.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa percepatan sosial kerap berjalan beriringan dengan kelelahan mental, meningkatnya kecemasan, dan menyempitnya ruang refleksi personal. Dalam situasi ini, peristiwa Isra Mi’raj menghadirkan ruang tafsir yang relevan sekaligus menenangkan. Isra Mi’raj tidak semata dipahami sebagai perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, melainkan sebagai peristiwa pembentukan kesadaran yang menyatukan dimensi spiritual dan psikologis manusia.

Ketika kehidupan modern mendorong individu untuk terus bergerak semakin cepat, Isra Mi’raj justru mengingatkan pentingnya ketepatan orientasi: ketepatan iman, ketepatan ibadah, dan ketepatan tujuan hidup. Al-Qur’an membuka peristiwa ini dengan pernyataan yang sarat makna:

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa” (QS. Al-Isra’: 1). Ayat ini memberi isyarat bahwa perjalanan spiritual kerap hadir setelah fase tekanan dan kelelahan batin.

Secara psikologis, Isra Mi’raj dapat dipahami sebagai momen penguatan diri sebuah proses pemulihan yang mengembalikan keteguhan, arah, dan harapan setelah masa-masa yang berat. Makna tersebut kemudian diwujudkan secara konkret melalui perintah shalat. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan praktik yang menata ritme hidup, melatih kehadiran diri, serta menjaga keseimbangan emosi. Al-Qur’an menegaskan fungsi ini:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Dalam konteks kehidupan modern, shalat menyediakan ruang jeda yang memungkinkan individu menata kembali relasi dengan diri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang menempatkan agama sebagai sumber pencerahan dan penggerak amal nyata.

Spirit tersebut terus hidup dalam gagasan Islam berkemajuan sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Haedar Nashir, yakni Islam yang berpijak pada kemurnian iman sekaligus peka terhadap dinamika zaman. Bagi dunia akademik, refleksi Isra Mi’raj menjadi pengingat bahwa kecepatan inovasi dan produktivitas intelektual memerlukan penopang nilai dan kesehatan psikologis.

Universitas ‘Aisyiyah Bandung, sebagai bagian dari gerakan Islam berkemajuan, memiliki peran strategis dalam menumbuhkan tradisi keilmuan yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga jernih dalam orientasi dan bertanggung jawab secara moral. Pada titik inilah Isra Mi’raj menemukan maknanya yang paling aktual: sebagai ajakan untuk menata arah di tengah laju, serta memastikan bahwa kemajuan yang diraih tetap berpihak pada kemanusiaan.